Ngabuburit, Di Masa Lalu !

5 Sep 2008

Tidak terasa sudah 4 hari kita melaksanakan Ibadah Puasa di Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Dalam melaksanakan Ibadah Puasa, kita mengenal istilah yang sudah umum yaitu “Ngabuburit”. Kali ini aku ingin menceritakan, sekian puluh tahun yang lalu, apa yang aku kerjakan ketika melaksanakan acara Ngabuburit dalam melaksanakan Ibadah Puasa ini.

Istilah ngabuburit adalah istilah yang umum digunakan oleh masyarakat di Jawa Barat dalam mengisi waktu menjelang senja hari (waktu magrib) dimana waktu nya untuk berbuka puasa. Nah ketika aku masih duduk di Sekolah Rakyat (SD sekarang) aku sudah mulai menjalankan puasa. Kalau dulu ada istilah “puasa ayakan” untuk para “pembelajar” yang mulai puasa, ikut sahur seusai waktunya tetapi waktunya berbuka di jam 12 siang. Kemudian secara bertahap ikut berpuasa seperti yang lainnya berbuka puasa pada saat Bedug magrib tiba.

Saat aku masih kecil, kebetulan aku tinggal di Kompleks Perumahan di Bandung Barat , saat itu sekitar rumah ku masih banyak sawah (sekarang sudah sulit mencari sawah di bandung) sehingga acara ngabuburit bisa dilakukan dengan mencari belut di pematang sawah (kalau istilah kami dulu “galengan”). Mencari belut bisa kami lakukan beramai-ramai atau sendiri-sendiri yang jelas kalau berbuka puasa bisa dipastikan ada lauknya “Belut Goreng” hasil tangkapan sendiri yang umumnya dimakan sendiri juga karena saudara-saudaraku tidak menyukai belut (mungkin karena “geli” ketika belut masih hidup). Atau bila bertepatan dengan musim hujan, dan sawah sehabis di panen, biasanya kita mengikuti para “Pengangon Itik” yang menggiring itiknya dari satu sawah ke sawah lainnya. Kalau sedang dapat rejeki, disini kita bisa menemukan telur itik yang tercecer, maklum kalau sedang digiring kesana kesini ada itik yang suka bertelur dimana saja dia mau. Juga bila sedang musim membajak sawah kita bisa ikut “menumpang” alat pembajak-nya pak tani, atau kalau kerbaunya sedang santai kita bisa menaiki kerbaunya yang mencari makan di tengah sawah.

Bila jenuh dengan sawah, biasanya aku dengan teman-temanku bermain di pinggir rel Kerata Api dan biasanya berkumpul di sekitar Stasiun (Halte) Andir yang dekat dengan kompleks perumahan dimana kami tinggal. Biasanya kami hanya melihat kereta api liwat saja, seperti kereta api ekspress Bandung-Jakarta yang saat itu masih ditarik lokomotif uap seri D-52. Tapi terkadang kami pun ngabuburit dengan naik kereta api langsam (kereta api yang berhenti disemua stasiun dan halte) sampai ke stasiun Padalarang dan kembali lagi ke stasiun Andir. Atau kadang-kadang sambil berjalan kaki menyusuri rel kereta api menuju stasiun Bandung.

Aktivitas lainnya menjelang berbuka puasa, adalah “perang lodong” atau main meriam-meriaman dengan menggunakan bambu yang diisi dengan karbit yang sudah dicampur dengan air yang bila dinyalakan dengan api akan menimbulkan suara ledakan yang keras. Aku biasanya hanya melihat saja karena untuk beli karbitnya saja (saat itu) harganya cukup mahal. Mungkin permainan ini di beberapa daerah masih ada sampai sekarang tetapi kalau aku kembali ke Bandung sudah jarang mendengar suara “ledakan-ledakan” akibat “perang lodong”. (mungkin juga termasuk yang “dilarang” oleh yang berwewenang seperti larangan membunyikan petasan dan sejenisnya)

Demikianlah sekelumit cerita “Ngabuburit” dimasa lalu yang masih ada dalam ingatanku, walaupun masih banyak yang aku lakukan pada saat ngabuburit di bulan puasa !


TAGS


-

Author

Follow Me